Pogba Ngotot Pada Posisi Favoritnya

Pogba Ngotot Pada Posisi Favoritnya

Prediksibola88dunia.com – Sifat Pogba saat keras kepala yang selalu mau di posisi favoritnya tidak mau bertukar. Kali ini prediksibola88dunia.com akan mambahas keras kepala pogba pada saat di lapangan hijau. Berikut ulasan lengkapnya di bawah ini.

Ole Gunnar Solskjaer membuka kemungkinan untuk mengubah posisi Paul Pogba di sisa laga musim ini. Pogba dinilai tak maksimal kendati telah dimainkan di posisi ideal.
Pogba mengalami beberapa kali perubahan posisi sejak didatangkan ke Old Trafford dari Juventus pada 2016. Di era Jose Mourinho, ia kerap dimainkan di posisi yang lebih bertahan di lini tengah.

Opsi itu membuat kemampuan Pogba dalam menyerang dianggap tak bisa tersalurkan dengan baik. Kedatangan Solskjaer membawa perubahan.

Pemain 26 tahun itu diberi keleluasaan oleh Solskjaer untuk menyerang. Hasilnya, ia mampu tampil gemilang dengan torehan sembilan gol di 12 laga awal bersama manajer asal Norwegia ini.

Tapi, seiring berjalannya waktu, performa Pogba kembali menurun. Di 10 laga terakhir Setan Merah, ia hanya mengemas dua gol, itupun dari titik putih.

Situasi itu kembali memunculkan persepsi bahwa MU belum mampu mengoptimalkan potensi Pogba dengan baik. Terkait hal ini, Solskjaer mengaku telah berbicara dengan pemain kelahiran Lagny-sur-Marne tersebut.

Solskjaer menegaskan tak bisa selalu memainkan Pogba di posisi yang diinginkan sang pemain. Manajer berjuluk The Baby-Faced Assassin itu menjelaskan seluruh pemain Setan Merah harus tampil sesuai dengan kebutuhan tim.

Baca juga : Gerrard Si Kapten Cerdas

“Setiap orang memiliki pendapat tentang Paul. Dan tentu saja, bersama dengan Paul, kami telah duduk dan membahas posisinya. Kami tahu ia bisa bermain di posisi nomor 10 atau enam,” tutur Solskjaer dilansir dari Sportskeeda.

“Kami tahu ia bisa bermain di posisi yang disukainya, sebagai satu dari tiga pemain di lini tengah, yang tampil menyerang, seperti di awal kedatanganya, seperti yang telah ia lakukan bersama Juventus,” ujar dia.

“Bersama timnas Prancis, ia bermain sebagai satu dari dua menyuplai bola, atau satu dari dua gelandang tengah dengan N’Golo Kante. Jadi, di posisi itulah bagusnya Paul,” ujar Solskajaer.

MU tinggal menyisakan lima laga di Liga Inggris. Yakni, menghadapi Everton, Manchester City, Chelsea, serta Huddersfield Town dan Cardiff City. Kiprah Setan Merah di Liga Champions sudah terhenti.

Pogba pun akan dimaksimalkan di lima laga itu.

“Dia bisa melakukan dua-duanya. Dan apa yang harus kami lakukan dengan semua pemain adalah menyesuaikan dengan pertandingan dan apa yang dibutuhkan oleh pertandingan itu,” dia menegaskan.

Gerrard Si Kapten Cerdas

Gerrard Si Kapten Cerdas

Prediksibola88dunia.com – NAMA Steven Gerrard pastinya tak asing lagi bagi para penggemar Liverpool. Gerrard adalah kapten Liverpool yang memiliki masa jabatan terlama di Anfield. Ia bahkan mendapat julukan sebagai kapten fantastis. Ditunjuk sebagai kapten pada 15 Oktober 2003, Gerrard kemudian memiliki perjalanan panjang dengan ban kapten Liverpool.

Selama 12 tahun, pria berpaspor Inggris itu memimpin Liverpool di lapangan hijau. Kala itu Gerard Houllier adalah pelatih yang menunjuk Gerrard sebagai kapten. Banyak yang meragukan Gerrard sebagai kapten karena kala itu ia masih berusia muda, 23 tahun.

Akan tetapi keraguan itu mulai terpatahkan. Ia justru mampu menjadi sosok legendaris yang kini tak pernah lepas dari klub berjuluk The Reds itu. Pertandingan pertama Gerrard sebagai kapten adalah saat Liverpool melawan Olimpija Ljubljana di ajang Piala UEFA 2003-2004.

Awal karier Gerrard sebagai kapten pun tak berjalan mulus. Pada musim pertamanya sebagai kapten, Liverpool tak memiliki gelar satu pun. Namun pada musim kedua sebagai kapten, hasil berbeda mampu diraih. Gerrard mengantarkan timnya meraih gelar juara di Liga Champions 2004-2005 setelah mengalahkan AC Milan.

Pada momen itu pula, Gerrard tampil menjadi pahlawan bagi Liverpool. Pasalnya kala itu, Liverpool sempat tertinggal 0-3 di babak pertama. Namun, Gerrard mampu membangkitkan motivasi rekan-rekannya dengan mencetak gol pertama untuk memperkecil ketertinggalan.

Baca juga : Tak Ada Messi Guardiola Kesulitan Di Liga Champion

Tanpa disangka gol pertamanya itu mampu membawa Liverpool kembali menambah dua gol dan keadaan jadi imbang 3-3. Liverpool kemudian keluar sebagai juara setelah menang adu penalti 3-2 atas Milan.

Pada momen adu penalti tersebut, Gerrard juga mengambil peran besar. Ia menjadi pengambil penalti terakhir yang merupakan bentuk tanggung jawab terhadap tim sebagai kapten. Niat baik itu pun membuahkan gelar juara. Bahkan bukan hanya itu saja, Gerrard juga dinobatkan sebagai pemain terbaik di Liga Champions 2004-2005.

Setelah momen tersebut, nama Gerrard semakin dielu-elukan. Keajaiban Gerrard sebagai kapten Liverpool pun semakin bersinar. Puncaknya, ia dijuluki kapten fantastis karena pencapaiannya yang luar biasa.

Ia merupakan satu-satunya pesepakbola yang mampu mencetak gol di final Piala FA, final Piala Liga, final Piala UEFA, dan final Liga Champions. Rekor itu pun masih bertahan hingga saat ini. Karena pencapaiannya tersebut, Gerrard semakin dikenal dengan sebutan kapten fantastis.

Tak Ada Messi Guardiola Kesulitan Di Liga Champion

Tak Ada Messi Guardiola Kesulitan Di Liga Champion

Prediksibola88dunia.com – Messi adalah pemain sepak bola terbaik di akhir – akhir wajar saja tidak adanya messi pasti akan membuat satu club berasa kehilangan ujung tombaknya. Kali ini prediksibola88dunia.com akan membahas rasa kehilangan Guardiola atas messi jadi membuat tidak pede dalam menghadapi Liga Champion.Berikut ulasan lengkapnya di bawah ini.

Sejak meninggalkan Barcelona, Pep Guardiola masih belum menjuarai Liga Champions lagi. Tak punya pemain seperti Lionel Messi diklaim menjadi penyebabnya.

Guardiola sempat membawa Barcelona dua kali menjuarai Liga Champions pada musim 2008/2009 dan 2010/2011. Usai meninggalkan Blaugrana, manajer asal Spanyol itu kesulitan mengangkat trofi si Kuping Besar lagi.

Sempat pindah ke Bayern Munich, prestasi Guardiola hanya mengantar raksasa Jerman itu ke semifinal. Kemudian di Manchester City, capaiannya menurun dengan mentok di perempafinal.

Terakhir, Guardiola gagal meloloskan City ke semifinal usai didepak Tottenham Hotspur, Kamis (18/4/2019) dini hari WIB. Usai kalah 0-1 di London, The Citizen cuma menang 4-3 di kandang sehingga kandas akibat kalah produktivitas gol tandang dalam agregat 4-4.

Ruud Gullit, legenda sepakbola Belanda, menyebut Guardiola kesulitan karena tidak punya pemain seperti Messi. Penyerang Argentina itu disebut bisa membantu sang manajer berkat kualitasnya.

Baca juga : Alasan Van Dijk Tak Bisa Hentikan Messi

“Guardiola tak memenangkan Liga Champions karena tidak puny Messi dan itu perbedaan besarny. Dia mencobanya di Bayern dan selalu hampir meraihnya, tetapi tidak berhasil,” ujar Gullit kepada BeIN Sports yang dilansir Marca.

“Gelar Bundesliga bersama Bayern tidak lagi menjadi prestasi karena mereka memenangkannya hampir setiap musim. Ketika Barcelona menghadapi pertandingan yang sulit, Messi unjuk gigi.”

“Messi sangat penting bagi Barcelona dalam banyak pertandingan di era Guardiola. Anda tidak bisa membeli sebuah tim untuk melakukannya dan karena itu saya sedih kepadanya, karena melihat hasrat dan motivasi yang ia miliki,” pungkas pria yang sempat berkarier di PSv Eindhoven, AC Milan, dan Chelsea tersebut.

Saat Guardiola gagal meloloskan City, Messi justru bisa mengantar Barcelona ke semifinal. Ia mencetak dua gol saat Barcelona mengalahkan Manchester United 3-0 di leg kedua sehingga memberi tiket babak empat besar dengan agregat 4-0.

Messi kini sudah bikin 10 gol di Liga Champions, dan selanjutnya akan memimpin Barcelona menghadapi Liverpool di semifinal.

Alasan Van Dijk Tak Bisa Hentikan Messi

Alasan Van Dijk Tak Bisa Hentikan Messi

Prediksibola88dunia.com – Perempat final Liga Champions 2019 berakhir. Artinya, ada empat tim yang telah memastikan lolos ke semifinal. Mereka adalah Ajax Amsterdam, Tottenham Hotspur, Barcelona dan Liverpool. Dua nama terakhir yang dipanggil, terikat untuk berkonflik untuk memenangkan tiket final ke Madrid. Pertandingan Barcelona vs Liverpool di semifinal sebagai duel antara tim yang sedang on fire. Keduanya adalah pemimpin sementara di liga domestik masing-masing.

The Reds, julukan Liverpool, kini sebagai kandidat kuat peraih titel Liga Inggris. Senada dengan Barcelona, tim dari kota Catalunya tersebut hampir memastikan trofi Liga Spanyol. Laga leg pertama antara Barcelona vs Liverpool rencananya akan digelar di Stadion Camp Nou, Selasa (30/4/2019). Pertandingan Barcelona vs Liverpool adalah pertandingan yang paling dinanti, walaupun dalam laga semifinal lain, antara Ajax Amsterdam vs Tottenham juga tak kalah seru. Laga tersebut tidak hanya tentang statistik kedua tim. Ada duel yang tak kalah menarik dari pemain andalan dari dua kesebelasan, yakni antara bek Liverpool, Virgil Van Dijk melawan sang megabintang Lionel Messi. Van Dijk yang didatangkan dari Southampton musim lalu langsung menjadi tulung punggung tim. Ia andil dalam kuatnya pertahanan Liverpool musim ini.

Virgil van Dijk merayakan golnya pada pertandingan FC Porto vs Liverpool dalam perempat final Liga Champions di Stadion Do Dragao, 17 April 2019. (AFP/PAUL ELLIS). Di Liga Inggris, The Reds menjadi tim yang paling sedikit kebobolan dengan 20 gol dari 34 pertandingan

Ketika ditanya tentang persiapannya untuk menghadapi Messi, bek yang pernah memperkuat Willem II itu belum mempersiapkan strategi khusus.

“Saya tak tahu, kita lihat saja nanti. Pertandingan yang menyenangkan untuk kami,” kata Van Dijk.

“Kami tak boleh menyulitkan diri sendiri dengan berpikir Messi adalah pemain terbaik di dunia,” tambah Van Dijk.

Rekor bek asal Belanda tersebut juga mentereng.Van Dijk bergabung bersama Allesio Romagnoli dan Omar Colley, karena belum ada satu pemain pun yang bisa melewati mereka musim ini di kompetisi Eropa.

Namun, rekor dan statistik tersebut sepertinya tak berlaku jika lawannya adalah Messi.

Baca juga : Drama Liga Champion 2018-2019

Berikut alasan penyebab Van Dijk tetap tidak bisa menghentikan penyerang Barcelona tersebut :

 Rekor Messi lebih mentereng
Messi musim ini sudah mencetak 43 gol dari 39 pertandingannya bersama Barcelona di Liga Spanyol dan Liga Champions.

Untuk urusan dribel sukses, total pemain timnas Argentina tersebut sudah mencatatkan 139 dribel sukses.

Meski belum ada satup pun pemain yang mampu melewati Van Dijk musim ini. Hal tersebut bukan masalah bagi Messi karena ia punya rekor yang lebih mentereng.

Messi sekarang pun juga memuncaki daftar topskor Liga Champions dengan torehan 10 gol.

Van Dijk bukan bek tanpa celah
Van Dijk bukan bek tanpa celah. Ia juga pernah melakukan blunder.

Kali terakhir, bek Liverpool tersebut melakukan salah umpan yang mengakibatkan Ryan Babel mencetak gol, saat The Reds dijamu Fulham dalam lanjutan Liga Inggris (17/4/2019).

Drama Liga Champion 2018-2019

Drama Liga Champion 2018-2019

Prediksibola88dunia.com – Drama Liga Champion 2018-2019 kali ini memang memberikan drama yang berbeda dari Liga Champion sebelumnya. Mulai dari Tim besar, Barca dan Liverpool, Sampai bagaimana Drama di final. Penasaran berikut ulasan serunya di bawah ini.

Yup, seperti komentar Richard Jolly di atas, panggung Liga Champions musim ini menghadirkan banyak catatan menarik. Bagaimana tidak, sejak fase kualifikasi, babak grup dan knock-out, publik pecinta sepak bola disuguhi beragam hal atraktif.

Hebatnya, hal itu terus terjadi dan konsisten sampai babak perempat final, yang dianggap sebagai puncak dari segala macam hal berbau kejutan. Bagaimana tidak, tim-tim unggulan, setidaknya dianggap unggulan, justru bertumbangan.

Laku perempat final memang memantik atensi tersendiri. Deretan klub-klub yang dianggap ideal hadir di sana. Mereka adalah sederet tim papan atas Eropa yang memiliki kualitas pemain di atas rata-rata. Sebut saja seperti Juventus, Barcelona, Liverpool, Manchester City, dan meski masih ‘dianggap bangkit’, Manchester United.

Komposisi delapan besar tersebut dianggap ideal. Sebelum kick-off perempat final, prediksi yang beredar nyaris sama dalam hal menebak komposisi di semifinal. Prakiraan tersebut tertuju pada kehadiran Barcelona, Liverpool, Juventus dan Manchester City.

Dua nama pertama menjadi para penebak menuju realitas ketika leg 1 selesai. Barcelona membungkam Manchester United di Old Trafford, sementara itu Liverpool menaklukkan FC Porto dengan skor 2-0, di Anfield.

Sayang, modal dua nama terakhir, Juventus dan Manchester City, tak maksikmal di Liga Champions, ketika menuju rumah sendiri. Juventus ditahan imbang oleh Ajax, sedangkan Manchester City justru terjungkal di kandang Tottenham Hotspur (0-1).

Baca juga : Pemain Didikan Alex Ferguson Yang Mengukir Sejarah

Nasib Tim Unggulan
Alhasil, sebagian besar mata penggemar sepak bola tertuju kepada aksi Juventus dan Manchester City. Hal yang sesuai prediksi, karena Barcelona dan Liverpool memang mulus melenggang, bahkan dengan meningkatkan dominasi mereka.

Lionel Messi dkk membuat Manchester United semakin terpuruk di Camp Nou. Dua gol Lionel Messi dan satu gol persembahan Philippe Coutinho, membuat Barcelona unggul agregat 4-0 atas Paul Pogba dkk.

Kondisi itu berbanding terbalik dengan sang rival abadi Manchester United, Liverpool. Bermain di markas FC Porto, Liverpool justru tampil tanpa beban. Aliran bola lebih mengalir deras ke jantung pertahanan FC Porto, dan anak-anak Jurgen Klopp berhasil memanfaatkan peluang set-piece.

Kombinasi tersebut memberi empat gol, yang dibagi rata Sadio Mane, Mohamed Salah, Virgil Van Dijk dan Roberto Firmino. Kemenangan tersebut membuat agregat 6-0, sekaligus menunjukkan kualitas luar biasa dari Liverpool.

Sayang, pada segmen selanjutnya, yakni babak semifinal, dua tim raksasa tersebut bakal saling beradu taring. Yup, final kepagian, itulah frasa yang tepat untuk menggambarkan perjumpaan Barcelona kontra Liverpool di babak semifinal.

Deskripsi model apapun tetap tak bisa mengelakkan status panggung final di semifinal. Kualitas permainan, terutama dari sisi permainan agresif, dari kedua tim layak dipertemukan di laga pamungkas

Barcelona dan Liverpool
Apalagi, saat ini Barcelona dan Liverpool adalah dua di antara properti panas di zona Eropa. Liverpool tengah berburu gelar kali pertama dalam dua dekade terakhir di pentas Premier League. Sementara itu, Barcelona adalah penguasa La Liga, yang tinggal membutuhkan angka tak sampai dobel digit agar bisa menambah koleksi trofi jawara domestik.

Semakin rumit ketika membedah kekuatan Barcelona dan Liverpool. Nyaris tak ada ruang yang menyebut keberadaan titik lemah, setidaknya berlatar dua penampilan pada fase perempat final.

Barcelona dan Liverpool memiliki tipikal penyerangan yang sama, yakni mengandalkan ketajaman trisula. Jika Liverpool punya Mohamed Salah, Roberto Firmino dan Sadio Mane, Barcelona sudah paten pada diri Lionel Messi, Luis Suarez, dan ini yang berbahaya, banyak kombinasi untuk satu orang lagi yang selalu langsung nyetel, meski biasanya diperuntukkan bagi Philippe Coutinho.

Perang di lapangan semakin lengkap, karena Barcelona dan Liverpool memiliki sosok dua pelatih yang sama-sama haus gelar di pentas Liga Champions. Ernesto Valverde (Barcelona) dan Jurgen Klopp (Liverpool), selalu penasaran dengan kans mengangkat trofi jawara turnamen paling bergengsi antarklub se-Eropa tersebut.

Catatan khusus tertuju kepada Klopp. Pelatih yang lama berkarier di Jerman tersebut nyaris menggapai impiannya tahun lalu. Kegagalan itu pula yang membuat Klopp punya ambisi besar menyempurnakan tujuan yang tertunda itu.

Namun, perjalanan Klopp tak akan muda. Tugas untuk melewati Ernesto Valverde bukan perkara mudah. Apalagi selalu bentrok budaya sepak bola antara Spanyol dan Inggris.

Tottenham Hotspur dan Ajax
Kalaupun Klopp lolos dari adangan Barcelona, menaklukkan satu di antara Tottenham Hotspur atau Ajax Amsterdam, juga bukan hal gampang. Dua underdog tersebut muncul sebagai bukti idiom ‘bola itu bulat’ masih berlaku.

Panggung kejutan terbesar ada di dua klub tersebut. Ajax Amsterdam menjadi pembuat petir kejutan pertama kala menyingkirkan Juventus. Klub terakhir punya target besar musim ini, terutama setelah mendatangkan Cristiano Ronaldo ke Turin.

Nama Cristiano Ronaldo memang moncer, dan terbukti dengan dua gol pada dua pertemuan kontra Ajax Amssterdam. Sayang, ia seperti bermain sendiri, sehingga membuat kolektivitas ala Ajax Amsterdam menaklukkan nama besar Juventus.

Tidak tanggung-tanggung, tamparan keras bagi sang penguasa Liga Italia Serie A tersebut justru terjadi di rumah sendiri, Juventus Stadium. Kali ini, semua pihak mengangkat trofi penanda apresiasi terhadap apa yang diperlihatkan Erik ten Hag, sang juru taktik Ajax Amsterdam.

Ia dianggap berhasil mengeksploitasi keunggulan spirit anak-anak muda Der Amsterdammers, yang berujung semangat pantang menyerah. Mereka tak grogi ketika Cristiano Ronaldo mencetak gol terlebih dulu.

Kombinasi menawan yang dipadu kreativitas bermain di lapangan, menjadi senjata andalan bagi Frenkie De Jong, Lasse Schone, Dusan Tadic, David Neres, Hakim Ziyech dan Donny van de Beek. Kemampuan Erik ten Hag dalam meramu kombinasi pemain muda dan senior, layak mendapat acungan jempol.

Erik ten Hag berhasil membuat transformasi Ajax, dari klub yang musim lalu berantakan di Eropa, menjadi lebih teratur. Apalagi, konsistensi mereka semakin kentara taktkala sekarang menjadi pemimpin klasemen sementara Eredivisie, dan bersaing ketat dengan PSV Eindhoven.

Walhasil, perjalanan Ajax yang spektakuler juga bakal mendapat lawan sepadan, yakni Tottenham Hotspur. Pertemuan Ajax dan Tottenham Hotspur di empat besar memberikan banyak pesan. Memang, kedua tim tak memiliki basis massa yang besar, tak seperti Barcelona dan Liverpool, namun cara mereka melangkah ke semifinal sudah memberi gambaran tentang kualitas kolektivitas.

Bagaimana Final?
Yup, Tottenham Hotspur dan Ajax tak butuh nama besar yang terlalu dominan. Mereka justru mengandalkan taktik yang berujung pada kreasi dan solid. Itu pula yang diperlihatkan The Spurs kala membungkam Manchester City.

Laga tersebut memang menjadi perbincangan hangat, terutama terhadap dua kejadian, yakni gol Fernando Llorente dan status off-side Sergio Aguero, yang membuat wasit menganulir gol ‘kemenangan’ dari Raheem Sterling.

Namun, keputusan wasit dengan menggunakan teknologi bantuan (VAR), membuat langkah Spurs ke semifinal berstatus sah. Manajer Manchester City, Pep Guardiola, boleh saja emosi dan melancarkan protes saat konferensi pers. Namun, harus diakui kualitas permainan mereka, yang berlaga tanpa bomber Harry Kane, menjadi mahfum.

Kini, publik bakal menyaksikan dua laga semifinal yang sudah bisa ditebak status pemenangnya, yakni si raksasa dan si pembunuh raksasa. Well, pertemuan mereka di laga final sudah pasti bakal memberi dua nuansa juga, yakni tim unggulan yang mulus atau petir menyambar dari tim kejutan.

Leganes Hampir Mengalakan Real Madrid

Leganes Hampir Mengalakan Real Madrid

Prediksimafiabola.com – Real Madrid di bawah kendali Zinedine Zidane tampaknya tidak stabil. Los blancos hampir mengalahkan Leganés di Liga 2018-2019 dan berlanjut pada Selasa (16/6/2019) dini hari WIB. Dalam pertandingan itu, pasukan Zidane hanya bisa meraih hasil imbang 1-1. Gol tuan rumah diciptakan oleh Jonathan Silva, sementara Karim Benzema melemparkan gol oleh Los Blancos.

Sejak menit awal Real Madrid langsung bermain menekan dengan tempo cepat.

Pada menit ke-9, Los Blancos mencoba peruntungan untuk mencetak gol. Isco memberikan umpan sempurna kepada Marco Asensio, namun tendangan dari pemain berusia 23 tahun itu, nyatanya masih melemah.

Mendapati peluang pertama dengan cepat, membuat El Real terlihat percaya diri untuk bisa segera mengubah papan skor.

Namun, skuat asuhan Zinedine Zidane yang bisa mendominasi jalannya pertandingan, masih sulit mencari celah untuk merobek gawang Ivan Cuellar.

Penghujung babak pertama, Real Madrid masih kesulitan untuk kembali membuat peluang tendangan ke gawang. Unggul penguasaan bola, nyatanya El Real terus menemukan jalan terjal ketika ingin menggelabui Cuellar.

Secara tak terduga, Real Madrid yang agak sedikit mengendurkan permainannya, justru harus tertinggal 0-1, ketika tendangan jarak jauh Jonathan Silva gagal dibendung Keylor Navas.

Baca juga : Jurnalis-Jurnalis Menjadi Lawat Berat Liperpol Kali Ini

Tertinggal 0-1, Real Madrid menggempur pertahanan Leganes. Hasilnya mereka bisa menyamakan kedudukan di menit-55, saat sepakan Karim Benzema gagal dihadang Cuellar.

Bisa menyamakan kedudukan menjadi 1-1, permainan Real Madrid mulai alami perubahan. Anak asuh Zizou, dapat mengunci pergerakan lini serang dari Los Pepineros. Kendati begitu, keseringan mengutak-atik bola terlalu lama, membuat Los Blancos justru jarang menciptakan peluang yang berarti.

Real Madrid, justru nyaris kembali alami kebobolan setelah Silva mempunyai kesempatan emas untuk mencetak gol. Untungnya, sundulannya kerasnya masih jatuh tepat di tangan Keylor Navas.

Tidak mau kalah dengan Leganes, Los Blancos mulai mencoba membuka peluangnya dalam mencetak gol. Menit-70, Dani Carvajal memberikan umpan terarah kepada Federico Valverde, nahasnya Cuellar masih dengan mudah menangkapnya.

Nasib sial justru menerpa Madrid. Menit-83, El Zhar bisa menceploskan bola ke gawang Navas, dan membawa Leganes unggul 2-1. Beruntungnya, setelah wasit kembali melihat melalui VAR (Video asisten wasit), El Zhar nyatanya telah dalam posisi offside, dan membuat wasit memutuskan untuk menganulir golnya.

Pada menit-89, Madrid juga nyaris kecolongan ketika lini pertahanannya amat rapuh. En-Nesyri yang hanya tinggal melewati Navas, tetap gagal mengubah papan skor dikarenakan Varane bergerak cepat untuk menghentikan sepakannya. Hasil imbang membuat Real Madrid makin tertinggal dari Atletico Madrid yang ada di posisi runner-up sementara La Liga Spanyol.

messi

MU Butuh Pemain Seperti Messi Jika Ingin Berjaya Kembali

Prediksibola88dunia.com – Setan Merah –julukan Man United di klem harus memiliki permain seperti messi jika ingin kembali berjaya seperti dulu lagi. Untuk masa – masa sekarang Man United sudah tidak seperti dulu lagi seperti masa kejayaan tim ini sudah lah sirna begitu saja.

Salah satu legenda Manchester United, Paul Parker, memberikan komentar mengenai kiprah mantan klubnya sepeninggal Sir Alex Ferguson. Parker menyebut bahwa Man United butuh pemain seperti Lionel Messi untuk membawa mereka kembali ke masa kejayaan seperti dulu.

Sebagaimana diketahui sejak Ferguson memutuskan pensiun sebagai manajer, kiprah Man United memang inkonsisten. Bahkan pada musim 2018-2019 saja, Man United sempat terseok-seok hingga akhirnya memecat Jose Mourinho dari kursi manajer.

Man United sempat bangkit di bawah asuhan Ole Gunnar Solskjaer dengan melalui sejumlah laga tanpa terkalahkan. Akan tetapi performa Setan Merah –julukan Man United– kembali menurun dengan hanya mampu memetik satu kemenangan dari lima laga terakhirnya kali ini.

Baca juga : Tiemoue Bakayoko Akan Tetap Di Pertahankan Club AC Milan

Parker selaku atau mantan pemain pun merasa prihatin dengan kiprah Man United kali ini. Parker berharap manajemen klub bisa mendatangkan pemain yang mampu mengubah mental para pemain Man United, layaknya seorang Messi bersama Barcelona.

“Man United belum mendapatkan satu pemain seperti Lionel Messi. Ia memang kesulitan di Old Trafford (dalam laga leg pertama perempatfinal Liga Champions 2018-2019), tetapi masih bisa berbuat cukup banyak untuk memenangkan laga,” ucap Parker, seperti dikutip dari Talksport, Sabtu (13/3/2019).

“Sekarang Anda meminta Man United untuk pergi dan memenangkan pertandingan di tempat di mana Barcelona hanya kalah sekali musim ini melawan Real Betis pada bulan November. Man United belum pernah memenangkan pertandingan melawan Barcelona di Camp Nou,” sambungnya.

“Semangat final tahun (Liga Champions) 1999, dan keberhasilan mereka di Liga Champions melawan Bayern Munich tidak masuk ke dalamnya. Para pemain yang kuat secara mental yang ada di sana pada tahun 1999 tidak benar-benar ada saat ini. Bukan hanya di United, tapi lintas sepakbola,” tutup pria berusia 55 tahun tersebut.

bola bola

Tiemoue Bakayoko Akan Tetap Di Pertahankan Club AC Milan

Rediksibola88dunia.com –  Direktur AC Milan Paolo Maldini tidak menyangkal bahwa Tiemoue Bakayoko mengalami masa sulit dengan AC Milan. Namun, Maldini memastikan bahwa Milan sekarang akan berjuang untuk mempertahankan pemain di San Siro. Tiemoue Bakayoko bergabung dengan Milan pada awal musim 2018/19. Milan membawa sang pemain dengan status pinjaman dari Chelsea. Bakayoko tidak bermain bagus saat di Chelsea, dia pun tidak masuk dalam skema pelatih Maurizio Sarri.

Masa peminjaman Bakayoko akan tuntas begitu musim 2018/19 berakhir. Sejauh ini, belum ada pembicaraan secara khusus dari pihak Milan dengan Chelsea terkait masa depan pemain berusia 24 tahun tersebut.

Simak pernyataan Paolo Maldini terkait masa depan Tiemoue Bakayoko di bawah ini ya Bolaneters.

Dipertahankan AC Milan

Pada awal musim, Tiemoue Bakayoko memang sulit mendapat menit bermain. Sebab, dia harus bersaing dengan Lucas Biglia dan Franck Kessie untuk mendapatkan satu tempat di lini tengah. Milan pun sempat punya keinginan melepas Bakayoko pada bursa transfer Januari 2019.

Cedera yang dialami Biglia kemudian jadi berkah terselubung untuk bagi Bakayoko. Dia mulai mendapat kepercayaan dari pelatih Gennaro Gattuso untuk bermain rutin. Dan, Milan ini berniat untuk membuat Bakayoko permanen di San Siro.

“Tiemoue Bakayoko menunjukkan karakter yang hebat. Dia tidak memulai karir di sini dengan sangat bagus dan harus beradaptasi dengan hal berbeda dari apa yang biasanya dia lakukan,” ucap Paolo Maldini pada Mediaset.

“Kami sangat senang dengannya dan kami akan berusaha keras untuk mempertahankan dia,” sambung legenda hidup AC Milan tersebut.

Baca juga : Supporter MU Menyerang Mental Messi

Belum Tentu Dibeli Permanen 

Sementara itu, Paolo Maldini masih belum bisa memastikan jalur apa yang ditempuh oleh AC Milan untuk mempertahankan Tiemoue Bakayoko. Sebab, jika ingin membelinya secara permanen, Milan juga harus berhitung dengan resiko hukuman Financial Fair Play [FFP].

“Itu akan sangat bergantung pada kasus Financial Fair Play dan posisi akhir kami di liga. Jika kami bermain untuk kualifikasi Liga Champions, akan sangat penting bagi kami berada di pasar dan juga memperdalam skuat,” tandas Maldini.

Tiemoue Bakayoko sejauh ini telah 25 kali dimainkan oleh Gennaror Gattuso di Serie A. Pemain asal Prancis itu mampu tampil bagus di posisi gelandang. Sejauh ini, eks AS Monaco juga memberikan satu gol dan satu assist untuk AC Milan di Serie A.

Supporter MU Menyerang Mental Messi

Prediksibola88dunia.com – Barcelona meraih hasil positif dalam perjalanan mereka ke markas Manchester United di leg pertama perempat final Liga Champions 2019. Bertindak di Old Trafford, Kamis (11/4/2019) dini hari tadi, Blaugrana menang 1-0 berkat gol Luke Shaw sendiri.

Pertandingan berlangsung seru sejak menit pertama. Meskipun berstatus sebagai tamu, Barca justru tampil lebih menyerang dan beberapa kali pertahanan Setan Merah kerepotan menghalau serangan Luis Suarez dkk.

Saking serunya, beberapa kali adu badan, saling melancarkan tekel terlihat sepanjang pertandingan. Salah satu yang menyita perhatian adalah yang melibatkan mega bintang Barca, Lionel Messi.

Messi harus mendapatkan perawatan dari tim medis Barcelona setelah mengalami pendarahan setelah berkontak fisik dengan Chris Smalling. Namun ada yang unik saat Messi terkapar, ada chant-chant yang bergema di daerah suporter MU yang seakan mengejek Messi.

Chant seperti apa itu? Simak artikel selengkapnya.

Chant Viva Ronaldo

Suporter Manchester United nampaknya tidak tahan untuk tidak melakukan teror psikis kepada Lionel Messi. Salah satu caranya adalah dengan mengumandangkan chat Viva Ronaldo.

Sebagaimana diketahui, Ronaldo dan Messi memang sejak bertahun-tahun belakangan menjadi rival dalam urusan status sebagai pemain terbaik sejagad. Dan Ronaldo sendiri merupakan mantan idola publik Old Trafford sebelum pindah ke Real Madrid.

Baca juga : Inggris Memiliki Cerita Manis Setelah Menang Telak

Nah yang menarik adalah ketika Messi terkapar usai berbenturan dengan Smalling. Pemain asal Argentina tersebut terlihat berdarah di sekitar mata dan hidungnya usai insiden pada menit ke-31 itu.

Ketika mendapatkan perawatan dari tim medis Barcelona, fans Manchester United tak tinggal diam. Insiden itu mereka gunakan untuk ‘menyerang’ mental Messi dengan cara menyanyikan chant ‘Viva Ronaldo’ yang justru sebelumnya sangat jarang dilakukan oleh suporter MU sejak Ronaldo pindah ke Real Madrid beberapa tahun silam.

Bagaimana? Berikut ini adalah sebagian cuitan fans Manchester United mengenai chant Viva Ronaldo ketika Messi terkapar.

Cuitan Fans

Insiden Messi dan juga perlakuan fans MU kepada sang bintang pun sudah banyak dibicarakan oleh suporter di Twitter. Dan berikut adalah sebagian di antaranya.

prediksi bola

Mantan Pemain Hebat Manchester United Sekalian Barcelona

Prediksibola88dunia.com – Sementara itu, United memenangkan Liga Champions tiga kali dan gelar Liga Premier 20 kali. Barcelona dan United akan saling berhadapan di leg pertama Liga Champions, babak delapan besar pada Rabu (4/10/19) nanti. Lionel Messi dan rekan-rekannya akan mengunjungi Old Trafford terlebih dahulu. Pertandingan antara Barcelona dan Manchester United selalu sengit. Namun, ada beberapa pemain yang telah menjadi bagian dari mereka sepanjang karir mereka.

Inilah lima pemain yang membela Barcelona dan Manchester United.

Henrik Larsson

Henrik Larsson adalah striker asal Swedia. Dia bergabung dengan Barcelona pada 2004 dan menghabiskan beberapa musim di sana. Dia juga membantu Barca memenangkan satu gelar Liga Champions dan dua gelar LaLiga. Larsson mencetak 19 gol dalam 59 pertandingan untuk raksasa Catalan. Larsson membantu Barca memenangkan Liga Champions pada 2006 ketika mereka mengalahkan Arsenal 2-1 di Paris. Dia memberikan assist untuk kedua gol tersebut di final dan bisa dibilang sebagai pemain terbaik Barcelona di pertandingan tersebut. Larsson bergabung dengan United dengan status pinjaman pada 2007 dan menghabiskan satu musi di sana. Dia bermain bersama pemain seperti Cristiano Ronaldo, Ryan Giggs, dan Wayne Rooney, dan mencetak tiga gol dalam 13 pertandingan untuk United. Dia juga memenangkan gelar Premier League bersama mereka sebelum meninggalkan klub pada 2008.

Gerard Pique

Gerard Pique muncul dari akademi Barcelona dan bergabung dengan United ketika masih remaja pada tahun 2004. Namun, ia gagal menggeser dominasi Nemanja Vidic dan Rio Ferdinand di jantung pertahanan Setan Merah. Namun, Pique memperkuat United sampai 2008 dan memenangkan satu gelar Liga Champions dan satu gelar Premier League bersama mereka. Dia memainkan 23 pertandingan untuk United dan mencetak dua gol. Pique meninggalkan klub pada 2008 dan kemudian kembali ke Barcelona. Pique kemudian menjelma menjadi salah satu bek tengah terbaik di dunia selama hampir satu dekade. Pique sudah memenangkan tiga Liga Champions dan tujuh gelar La Liga bersama Barcelona. Dia juga sudah mencetak 46 gol dalam 487 pertandingan untuk mereka.

Zlatan Ibrahimovic

Striker Swedia ini bergabung dengan Barcelona dari Inter Milan pada 2009 dengan ditukar Samuel Eto’o. Namun, Ibrahimovic hanya bertahan satu musim saja di Barcelona. Meskipun begitu, ia mampu mencetak 22 gol dari 46 pertandingan untuk mereka. Perselisihannya dengan pelatih Josep Guardiola saat itu membuatnya harus angkat kaki dari klub. Ia memenangkan satu gelar La Liga sebelum meninggalkan Barca. Ibra bergabung dengan Manchester United saat berusia 35 tahun pada 2016 dan membantu mereka memenangkan Liga Eropa dan Piala Liga di bawah Jose Mourinho. Dia mencetak 29 gol dalam 53 pertandingan untuk United selama dua musim.

Victor Valdes

Victor Valdes adalah produk akademi La Masia dan menjadi kiper Barcaelona pada akhir 2000-an dan awal 2010-an. Dia memenangkan tiga Liga Champions dan lima gelar La Liga bersama mereka. Valdes memainkan 535 pertandingan untuk mereka dalam 12 musim. Valdes adalah kiper yang bagus dan mampu memastikan Barcelona tidak kebobolan banyak gol. Kedatangan Claudio Bravo memaksanya untuk meninggalkan klub pada 2014 dan bergabung dengan Manchester United. Namun, Valdes hanya bermain dalam dua pertandingan untuk United dan hanya menjadi penghangat bangku cadangan selama di Old Trafford. Dia meninggalkan United pada tahun 2016.

Baca juga : Ajax Mampu Mengatasi Juventus Menurut Nicolas Tagliafico

Alexis Sanchez

Penyerang Chile ini direkrut oleh Barcelona pada 2011 dan bermain di sana hingga 2014. Pada performa terbaiknya, Sanchez adalah salah satu penyerang terbaik di dunia dan ia memenangkan satu gelar La Liga bersama Barca. Namun, ia harus bersaing dengan pemain-pemain seperti David Villa dan Pedro Rodriguez di starting XI Barcelona. Meskipun begitu, ia berhasil mencetak 47 gol dalam 141 pertandingan untuk Barca. Sanchez kemudian hengkang ke Arsenal pada 2014 dan juga cukup sukses bersama The Gunners. Dia bergabung dengan United dari Arsenal pada 2018 tetapi belum bisa menunjukkan performa terbaiknya untuk Setan Merah. Dia kalah bersaing dengan pemain-pemain seperti Anthony Martial, Jesse Lingard dan Marcus Rashford di United dan hanya mencetak 5 gol dalam 41 pertandingan untuk mereka.