Kemungkinan Barter Pemain Inter Milan Dan Manchester United

Kemungkinan Barter Pemain Inter Milan Dan Manchester United

Prediksibola88dunia.com – Wartawan Italia Gianluca Di Marzio mengatakan bahwa Inter Milan dan Manchester United memiliki kesempatan untuk bertukar pemain di bursa transfer musim panas tahun 2019. Para pemain yang dimaksud adalah Romelu Lukaku dan Mauro Icardi. Romelu Lukaku tampaknya tidak konsisten sejak bergabung dengan Manchester United pada 2017. Dia yakin bahwa dia akan menjadi mesin gol utama, tetapi dia gagal menunjukkan kinerja yang menjanjikan.

Performa Lukaku terus menurun setelah tampil bersama Belgia pada Piala Dunia 2018. Hal itu membuat manajemen Manchester United gerah.

Saat ini, Lukaku sudah tidak menjadi striker pilihan utama. Posisinya tergeser oleh Marcus Rashford.

Hal itu membuat Lukaku membuka peluang untuk meninggalkan Mancehster United pada musim panas mendatang. Italia menjadi tujuan utama Lukaku.

Kondisi tersebut membuat Manchester United membutuhkan penyerang baru untuk menggantikan peran Lukaku. Mauro Icardi disebut sebagai penyerang yang cocok untuk menghuni lini depan The Red Devils.

Baca juga : Pemain Mancherster United Yang Siap Kluar Club

Inter Milan sedang berusaha melepas Icardi yang bersmasalah dengan manajemen klub. Ia sudah merencanakan untuk meninggalkan klub tersebut pada bursa transfer musim panas 2019.

Pendapat Gianluca Di Marzio
“Inter Milan merasakan banyak masalah dengan Mauro Icardi. Peluangnya untuk meninggalkan klub tersebut masih terbuka lebar,” ujar Di Marzio.

“Semua klub top mulai melirik Icardi karena masalah tersebut. Inter Milan mungkin akan melepasnya di bawah harga 110 juta euro.”

“Manchester United memiliki posisi yang diuntungkan karena mereka juga ingin melepas Romelu Lukaku. Peluang untuk pertukaran pemain antara Inter Milan dan Manchester United sangat besar,” ungkap Di Marzio.

Pemain Mancherster United Yang Siap Kluar Club

Pemain Mancherster United Yang Siap Kluar Club

Prediksibola88dunia.com – Mancherter United atau juga yang sering di kenal publik sebagai setan merah ini sedang berjuang memenangkan empat pertandingan trakhir ini namun ada sebagaian pemain yang menyatakan kalau kalah dalam pertandingan ini mereka siap meninggalkan Mancherster United. Penasaran dengan ulasannya berikut selengkapnya dibawah ini.

Manchester United sedang berjuang untuk menyelesaikan dalam empat pertandingan terakhir Liga Premier musim ini. Selain muncul kembali di Liga Champions, Setan Merah terikat untuk mengamankan beberapa pemain rayuan terbaik dari klub besar lainnya jika mereka tidak bermain di Eropa musim depan.

Manchester United telah dan akan melalui minggu-minggu yang sulit. Setan Merah baru saja tersingkir dari Liga Champions pada pertengahan pekan lalu, setelah kalah 0-4 secara agregat melawan Barcelona.

Setelah itu, Manchester United dihajar Everton dalam lanjutan Liga Inggris di Goodison Park, Minggu (21/4/2019). Tak tanggung-tanggung, tim asuhan Ole Gunnar Solskjaer itu kalah telak empat gol tanpa balas.

Setelah dua laga berat tersebut, penderitaan Manchester United belum usai. Ashley Young dkk akan menghadapi Manchester City dan Chelsea pada pekan ini. Harapan Manchester United untuk finis di posisi empat besar pun kian tipis.

Nahasnya, ada beberapa pemain Manchester United yang siap hengkang jika gagal bermain di Liga Champions musim depan.

Baca juga : Di Pertandingan Terakhir Penentu Liverpool dan Manchester City

Mengutip The Guardian, kabarnya sudah ada tiga pemain MU yang siap pergi jika mereka gagal bermain di Liga Champions musim depan. Ketiganya adalah David De Gea, Paul Pogba, dan Romelu Lukaku.

Pembicaraan kontrak baru De Gea masih menemui jalan buntu. Kabarnya, kiper Spanyol ini sudah mempertimbangkan hengkang ke klub lain demi meraih trofi lebih banyak.

Pogba sendiri terus dihubungkan dengan Real Madrid sejak kembalinya Zinedine Zidane ke Santiago Bernabeu. Kabarnya, Madrid siap meluncurkan 150 juta euro demi mendapatkan jasa Pogba.

Situasi Romelu Lukaku sedikit lebih sulit. Dia tidak lagi jadi pilihan utama pasca kembalinya Ole Gunnar Solskjaer. Pelatih anyar Manchester United itu tampaknya lebih sering memainkan Marcus Rashford.

Situasi yang Dihadapi Manchester United
Manchester United saat ini berada di peringkat keenam klasemen sementara Premier League dengan 64 poin dari 34 laga. Mereka wajib bersaing dengan Arsenal di peringkat kelima dengan 66 poin, Chelsea di peringkat keempat dengan 67 poin, dan Tottenham Hotspur di peringkat ketiga dengan 67 poin juga.

Artinya, laga melawan Man City dan Chelsea pekan ini wajib dimenangi. Jika Mancherster United kalah di kedua laga tersebut, peluang mereka finis di empat besar sudah hampir pasti melayang.

Nahasnya, tidak bermain di Liga Champions bukanlah tawaran yang baik untuk mengamankan pemain-pemain terbaik mereka. Sebagai tim besar, Manchester United wajib bermain di Liga Champions. Kegagalan menembus Liga Champions bisa sangat merugikan.

Di Pertandingan Terakhir Penentu Liverpool dan Manchester City

Di Pertandingan Terakhir Penentu Liverpool dan Manchester City

Prediksibola88dunia.com – Pecinta Bola kali ini prediksibola88dunia.com akan membahas ulasan tentang lawan terakhir yang menentukan Manchester City bisa sampai sekarang pertandingan piala dunia kali ini memang sangat memberikan banyak cerita berbeda dengan pertandingan biasanya. Berikut ulasan lengkapnya di bawah ini.

Manchester City dan Liverpool akan bertarung dalam tiga pertandingan terakhir di stadion Liga Premier 2018-2019. Saat ini, Manchester City berada di posisi pertama setelah memenangkan Manchester United, sambil memindahkan posisi Liverpool.

Manchester City mengoleksi 89 angka, terpaut satu poin di atas Liverpool. Kedua tim sudah menyelesaikan 35 pertandingan. Artinya, duo ‘kuda pacu’ tersebut tak boleh terpeleset jika enggan tertutup peluang meraih gelar musim ini.

Oleh karena itu, Mnchester City dan Liverpool wajib saling mengintip dengan harapan berbeda. Liverpool punya asa agar Manchester City terpeleset pada tiga laga terakhir. Sementara itu, Manchester City ingin Liverpool kalah atau minimal seri pada tiga laga tersebut.

Tiga lagi terakhir Liverpool dianggap lebih ringan, setidaknya dari sisi status, yakni dua kali tuan rumah dan sekali tandang. Hal itu berbeda dengan Manchester City. Sang juara bertahan harus dua kali melawat dan sekali berlaga di rumah sendiri.

Pada sisa laga musim ini, Liverpool akan menjamu Huddersfield (26/4/2019) dan Wolverhampton Wanderers (12/5/2019). Satu laga keluar kandang akan dilakoni Liverpool saat bertemu Newcastle United (4/5/2019).

Sementara itu, Manchester City akan menjadi tamu bagi Burnley (28/4/2019) dan Brighton (12/5/2019). Satu permainan di rumah sendiri terjadi saat Leicester City datang ke Etihad Stadium (6/5/2019).

Baca juga : Nasib Ronaldo Jika Tidak Menang Dalam Liga Champions

Catatan Pertemuan Pertama

Kans Liverpool meraih hasil sempurna pada tiga laga terakhir termasuk besar. Setidaknya, pada pertemuan pertama musim ini, Liverpool mampu menundukkan Huddersfield Town dengan skor 1-0 via gol Mohamed Salah (24′).

Liverpool berpesta gol ke gawang Newcastle United (26/12/2019) pada pertemuan pertama. Empat gol lahir via Dejan Lovren (11), Mohamed Salah (47′), Xherdan Shaqiri (79′) dan Fabinho (85′). Satu pertemuan kontra Wolves juga dimenangkan Liverpool (0-2).

Kondisi tersebut berbeda dengan Manchester City. Sergio Aguero dkk sekali kalah dari tiga lawan terakhir pada pertemuan pertama. Manchester City takluk dari Leicester City dengan skor 1-2 (26/12/2019).

Sementara itu, Manchester City menekuk Burnley dengan skor 5-0 (20/10/2018) dan Brighton (2-0). Beragam fakta tersebut membuat perseteruan Manchester City dan Liverpool akan semakin seru.

Gerrard Si Kapten Cerdas

Gerrard Si Kapten Cerdas

Prediksibola88dunia.com – NAMA Steven Gerrard pastinya tak asing lagi bagi para penggemar Liverpool. Gerrard adalah kapten Liverpool yang memiliki masa jabatan terlama di Anfield. Ia bahkan mendapat julukan sebagai kapten fantastis. Ditunjuk sebagai kapten pada 15 Oktober 2003, Gerrard kemudian memiliki perjalanan panjang dengan ban kapten Liverpool.

Selama 12 tahun, pria berpaspor Inggris itu memimpin Liverpool di lapangan hijau. Kala itu Gerard Houllier adalah pelatih yang menunjuk Gerrard sebagai kapten. Banyak yang meragukan Gerrard sebagai kapten karena kala itu ia masih berusia muda, 23 tahun.

Akan tetapi keraguan itu mulai terpatahkan. Ia justru mampu menjadi sosok legendaris yang kini tak pernah lepas dari klub berjuluk The Reds itu. Pertandingan pertama Gerrard sebagai kapten adalah saat Liverpool melawan Olimpija Ljubljana di ajang Piala UEFA 2003-2004.

Awal karier Gerrard sebagai kapten pun tak berjalan mulus. Pada musim pertamanya sebagai kapten, Liverpool tak memiliki gelar satu pun. Namun pada musim kedua sebagai kapten, hasil berbeda mampu diraih. Gerrard mengantarkan timnya meraih gelar juara di Liga Champions 2004-2005 setelah mengalahkan AC Milan.

Pada momen itu pula, Gerrard tampil menjadi pahlawan bagi Liverpool. Pasalnya kala itu, Liverpool sempat tertinggal 0-3 di babak pertama. Namun, Gerrard mampu membangkitkan motivasi rekan-rekannya dengan mencetak gol pertama untuk memperkecil ketertinggalan.

Baca juga : Tak Ada Messi Guardiola Kesulitan Di Liga Champion

Tanpa disangka gol pertamanya itu mampu membawa Liverpool kembali menambah dua gol dan keadaan jadi imbang 3-3. Liverpool kemudian keluar sebagai juara setelah menang adu penalti 3-2 atas Milan.

Pada momen adu penalti tersebut, Gerrard juga mengambil peran besar. Ia menjadi pengambil penalti terakhir yang merupakan bentuk tanggung jawab terhadap tim sebagai kapten. Niat baik itu pun membuahkan gelar juara. Bahkan bukan hanya itu saja, Gerrard juga dinobatkan sebagai pemain terbaik di Liga Champions 2004-2005.

Setelah momen tersebut, nama Gerrard semakin dielu-elukan. Keajaiban Gerrard sebagai kapten Liverpool pun semakin bersinar. Puncaknya, ia dijuluki kapten fantastis karena pencapaiannya yang luar biasa.

Ia merupakan satu-satunya pesepakbola yang mampu mencetak gol di final Piala FA, final Piala Liga, final Piala UEFA, dan final Liga Champions. Rekor itu pun masih bertahan hingga saat ini. Karena pencapaiannya tersebut, Gerrard semakin dikenal dengan sebutan kapten fantastis.

Alasan Van Dijk Tak Bisa Hentikan Messi

Alasan Van Dijk Tak Bisa Hentikan Messi

Prediksibola88dunia.com – Perempat final Liga Champions 2019 berakhir. Artinya, ada empat tim yang telah memastikan lolos ke semifinal. Mereka adalah Ajax Amsterdam, Tottenham Hotspur, Barcelona dan Liverpool. Dua nama terakhir yang dipanggil, terikat untuk berkonflik untuk memenangkan tiket final ke Madrid. Pertandingan Barcelona vs Liverpool di semifinal sebagai duel antara tim yang sedang on fire. Keduanya adalah pemimpin sementara di liga domestik masing-masing.

The Reds, julukan Liverpool, kini sebagai kandidat kuat peraih titel Liga Inggris. Senada dengan Barcelona, tim dari kota Catalunya tersebut hampir memastikan trofi Liga Spanyol. Laga leg pertama antara Barcelona vs Liverpool rencananya akan digelar di Stadion Camp Nou, Selasa (30/4/2019). Pertandingan Barcelona vs Liverpool adalah pertandingan yang paling dinanti, walaupun dalam laga semifinal lain, antara Ajax Amsterdam vs Tottenham juga tak kalah seru. Laga tersebut tidak hanya tentang statistik kedua tim. Ada duel yang tak kalah menarik dari pemain andalan dari dua kesebelasan, yakni antara bek Liverpool, Virgil Van Dijk melawan sang megabintang Lionel Messi. Van Dijk yang didatangkan dari Southampton musim lalu langsung menjadi tulung punggung tim. Ia andil dalam kuatnya pertahanan Liverpool musim ini.

Virgil van Dijk merayakan golnya pada pertandingan FC Porto vs Liverpool dalam perempat final Liga Champions di Stadion Do Dragao, 17 April 2019. (AFP/PAUL ELLIS). Di Liga Inggris, The Reds menjadi tim yang paling sedikit kebobolan dengan 20 gol dari 34 pertandingan

Ketika ditanya tentang persiapannya untuk menghadapi Messi, bek yang pernah memperkuat Willem II itu belum mempersiapkan strategi khusus.

“Saya tak tahu, kita lihat saja nanti. Pertandingan yang menyenangkan untuk kami,” kata Van Dijk.

“Kami tak boleh menyulitkan diri sendiri dengan berpikir Messi adalah pemain terbaik di dunia,” tambah Van Dijk.

Rekor bek asal Belanda tersebut juga mentereng.Van Dijk bergabung bersama Allesio Romagnoli dan Omar Colley, karena belum ada satu pemain pun yang bisa melewati mereka musim ini di kompetisi Eropa.

Namun, rekor dan statistik tersebut sepertinya tak berlaku jika lawannya adalah Messi.

Baca juga : Drama Liga Champion 2018-2019

Berikut alasan penyebab Van Dijk tetap tidak bisa menghentikan penyerang Barcelona tersebut :

 Rekor Messi lebih mentereng
Messi musim ini sudah mencetak 43 gol dari 39 pertandingannya bersama Barcelona di Liga Spanyol dan Liga Champions.

Untuk urusan dribel sukses, total pemain timnas Argentina tersebut sudah mencatatkan 139 dribel sukses.

Meski belum ada satup pun pemain yang mampu melewati Van Dijk musim ini. Hal tersebut bukan masalah bagi Messi karena ia punya rekor yang lebih mentereng.

Messi sekarang pun juga memuncaki daftar topskor Liga Champions dengan torehan 10 gol.

Van Dijk bukan bek tanpa celah
Van Dijk bukan bek tanpa celah. Ia juga pernah melakukan blunder.

Kali terakhir, bek Liverpool tersebut melakukan salah umpan yang mengakibatkan Ryan Babel mencetak gol, saat The Reds dijamu Fulham dalam lanjutan Liga Inggris (17/4/2019).

Drama Liga Champion 2018-2019

Drama Liga Champion 2018-2019

Prediksibola88dunia.com – Drama Liga Champion 2018-2019 kali ini memang memberikan drama yang berbeda dari Liga Champion sebelumnya. Mulai dari Tim besar, Barca dan Liverpool, Sampai bagaimana Drama di final. Penasaran berikut ulasan serunya di bawah ini.

Yup, seperti komentar Richard Jolly di atas, panggung Liga Champions musim ini menghadirkan banyak catatan menarik. Bagaimana tidak, sejak fase kualifikasi, babak grup dan knock-out, publik pecinta sepak bola disuguhi beragam hal atraktif.

Hebatnya, hal itu terus terjadi dan konsisten sampai babak perempat final, yang dianggap sebagai puncak dari segala macam hal berbau kejutan. Bagaimana tidak, tim-tim unggulan, setidaknya dianggap unggulan, justru bertumbangan.

Laku perempat final memang memantik atensi tersendiri. Deretan klub-klub yang dianggap ideal hadir di sana. Mereka adalah sederet tim papan atas Eropa yang memiliki kualitas pemain di atas rata-rata. Sebut saja seperti Juventus, Barcelona, Liverpool, Manchester City, dan meski masih ‘dianggap bangkit’, Manchester United.

Komposisi delapan besar tersebut dianggap ideal. Sebelum kick-off perempat final, prediksi yang beredar nyaris sama dalam hal menebak komposisi di semifinal. Prakiraan tersebut tertuju pada kehadiran Barcelona, Liverpool, Juventus dan Manchester City.

Dua nama pertama menjadi para penebak menuju realitas ketika leg 1 selesai. Barcelona membungkam Manchester United di Old Trafford, sementara itu Liverpool menaklukkan FC Porto dengan skor 2-0, di Anfield.

Sayang, modal dua nama terakhir, Juventus dan Manchester City, tak maksikmal di Liga Champions, ketika menuju rumah sendiri. Juventus ditahan imbang oleh Ajax, sedangkan Manchester City justru terjungkal di kandang Tottenham Hotspur (0-1).

Baca juga : Pemain Didikan Alex Ferguson Yang Mengukir Sejarah

Nasib Tim Unggulan
Alhasil, sebagian besar mata penggemar sepak bola tertuju kepada aksi Juventus dan Manchester City. Hal yang sesuai prediksi, karena Barcelona dan Liverpool memang mulus melenggang, bahkan dengan meningkatkan dominasi mereka.

Lionel Messi dkk membuat Manchester United semakin terpuruk di Camp Nou. Dua gol Lionel Messi dan satu gol persembahan Philippe Coutinho, membuat Barcelona unggul agregat 4-0 atas Paul Pogba dkk.

Kondisi itu berbanding terbalik dengan sang rival abadi Manchester United, Liverpool. Bermain di markas FC Porto, Liverpool justru tampil tanpa beban. Aliran bola lebih mengalir deras ke jantung pertahanan FC Porto, dan anak-anak Jurgen Klopp berhasil memanfaatkan peluang set-piece.

Kombinasi tersebut memberi empat gol, yang dibagi rata Sadio Mane, Mohamed Salah, Virgil Van Dijk dan Roberto Firmino. Kemenangan tersebut membuat agregat 6-0, sekaligus menunjukkan kualitas luar biasa dari Liverpool.

Sayang, pada segmen selanjutnya, yakni babak semifinal, dua tim raksasa tersebut bakal saling beradu taring. Yup, final kepagian, itulah frasa yang tepat untuk menggambarkan perjumpaan Barcelona kontra Liverpool di babak semifinal.

Deskripsi model apapun tetap tak bisa mengelakkan status panggung final di semifinal. Kualitas permainan, terutama dari sisi permainan agresif, dari kedua tim layak dipertemukan di laga pamungkas

Barcelona dan Liverpool
Apalagi, saat ini Barcelona dan Liverpool adalah dua di antara properti panas di zona Eropa. Liverpool tengah berburu gelar kali pertama dalam dua dekade terakhir di pentas Premier League. Sementara itu, Barcelona adalah penguasa La Liga, yang tinggal membutuhkan angka tak sampai dobel digit agar bisa menambah koleksi trofi jawara domestik.

Semakin rumit ketika membedah kekuatan Barcelona dan Liverpool. Nyaris tak ada ruang yang menyebut keberadaan titik lemah, setidaknya berlatar dua penampilan pada fase perempat final.

Barcelona dan Liverpool memiliki tipikal penyerangan yang sama, yakni mengandalkan ketajaman trisula. Jika Liverpool punya Mohamed Salah, Roberto Firmino dan Sadio Mane, Barcelona sudah paten pada diri Lionel Messi, Luis Suarez, dan ini yang berbahaya, banyak kombinasi untuk satu orang lagi yang selalu langsung nyetel, meski biasanya diperuntukkan bagi Philippe Coutinho.

Perang di lapangan semakin lengkap, karena Barcelona dan Liverpool memiliki sosok dua pelatih yang sama-sama haus gelar di pentas Liga Champions. Ernesto Valverde (Barcelona) dan Jurgen Klopp (Liverpool), selalu penasaran dengan kans mengangkat trofi jawara turnamen paling bergengsi antarklub se-Eropa tersebut.

Catatan khusus tertuju kepada Klopp. Pelatih yang lama berkarier di Jerman tersebut nyaris menggapai impiannya tahun lalu. Kegagalan itu pula yang membuat Klopp punya ambisi besar menyempurnakan tujuan yang tertunda itu.

Namun, perjalanan Klopp tak akan muda. Tugas untuk melewati Ernesto Valverde bukan perkara mudah. Apalagi selalu bentrok budaya sepak bola antara Spanyol dan Inggris.

Tottenham Hotspur dan Ajax
Kalaupun Klopp lolos dari adangan Barcelona, menaklukkan satu di antara Tottenham Hotspur atau Ajax Amsterdam, juga bukan hal gampang. Dua underdog tersebut muncul sebagai bukti idiom ‘bola itu bulat’ masih berlaku.

Panggung kejutan terbesar ada di dua klub tersebut. Ajax Amsterdam menjadi pembuat petir kejutan pertama kala menyingkirkan Juventus. Klub terakhir punya target besar musim ini, terutama setelah mendatangkan Cristiano Ronaldo ke Turin.

Nama Cristiano Ronaldo memang moncer, dan terbukti dengan dua gol pada dua pertemuan kontra Ajax Amssterdam. Sayang, ia seperti bermain sendiri, sehingga membuat kolektivitas ala Ajax Amsterdam menaklukkan nama besar Juventus.

Tidak tanggung-tanggung, tamparan keras bagi sang penguasa Liga Italia Serie A tersebut justru terjadi di rumah sendiri, Juventus Stadium. Kali ini, semua pihak mengangkat trofi penanda apresiasi terhadap apa yang diperlihatkan Erik ten Hag, sang juru taktik Ajax Amsterdam.

Ia dianggap berhasil mengeksploitasi keunggulan spirit anak-anak muda Der Amsterdammers, yang berujung semangat pantang menyerah. Mereka tak grogi ketika Cristiano Ronaldo mencetak gol terlebih dulu.

Kombinasi menawan yang dipadu kreativitas bermain di lapangan, menjadi senjata andalan bagi Frenkie De Jong, Lasse Schone, Dusan Tadic, David Neres, Hakim Ziyech dan Donny van de Beek. Kemampuan Erik ten Hag dalam meramu kombinasi pemain muda dan senior, layak mendapat acungan jempol.

Erik ten Hag berhasil membuat transformasi Ajax, dari klub yang musim lalu berantakan di Eropa, menjadi lebih teratur. Apalagi, konsistensi mereka semakin kentara taktkala sekarang menjadi pemimpin klasemen sementara Eredivisie, dan bersaing ketat dengan PSV Eindhoven.

Walhasil, perjalanan Ajax yang spektakuler juga bakal mendapat lawan sepadan, yakni Tottenham Hotspur. Pertemuan Ajax dan Tottenham Hotspur di empat besar memberikan banyak pesan. Memang, kedua tim tak memiliki basis massa yang besar, tak seperti Barcelona dan Liverpool, namun cara mereka melangkah ke semifinal sudah memberi gambaran tentang kualitas kolektivitas.

Bagaimana Final?
Yup, Tottenham Hotspur dan Ajax tak butuh nama besar yang terlalu dominan. Mereka justru mengandalkan taktik yang berujung pada kreasi dan solid. Itu pula yang diperlihatkan The Spurs kala membungkam Manchester City.

Laga tersebut memang menjadi perbincangan hangat, terutama terhadap dua kejadian, yakni gol Fernando Llorente dan status off-side Sergio Aguero, yang membuat wasit menganulir gol ‘kemenangan’ dari Raheem Sterling.

Namun, keputusan wasit dengan menggunakan teknologi bantuan (VAR), membuat langkah Spurs ke semifinal berstatus sah. Manajer Manchester City, Pep Guardiola, boleh saja emosi dan melancarkan protes saat konferensi pers. Namun, harus diakui kualitas permainan mereka, yang berlaga tanpa bomber Harry Kane, menjadi mahfum.

Kini, publik bakal menyaksikan dua laga semifinal yang sudah bisa ditebak status pemenangnya, yakni si raksasa dan si pembunuh raksasa. Well, pertemuan mereka di laga final sudah pasti bakal memberi dua nuansa juga, yakni tim unggulan yang mulus atau petir menyambar dari tim kejutan.